Pemuda itu tampan, berumur 20 tahun dan yang paling heboh, ia anak seorang pengusaha yang amat besar di negeri ini. Oleh karena dibesarkan dalam suasana yang berkecukupan dan tidak pernah tidak mendapatkan apa pun yang ia kehendaki, maka Erwin, begitu saja kita panggil pemuda ini, tidak berteman baik dengan apa artinya penolakan atau yang sering disebut rejection. Bayangkan, Erwin bisa dibilang salah satu penerus dan pewaris korporasi sangat besar di negeri ini.
Beginya penolakan adalah benda asing yang belum pernah ia jamah atau rasakan. Dua tahun berada di Inggris, Erwin aman-aman saja, tidak ada berita istimewa. Dan bagi kita semua yang setuju dengan pepatah ini "no news is good news", berarti keadaannya baik-baik saja, sama seperti saat orang ditanya, "How are you?"
Namun hari itu ada berita besar. Ada berita tragis. Erwin meninggal tanpa banyak penjelasan mengapa ia meninggal. Orang tidak pernah mendengar ia terserang penyakit ganas, atau kecelakaan pacuan kuda atau lagi balap mobil Ferari. Erwin ternyata salah jalan keluar. Ia memilih keluar lewat jendela lantai 18 di apartemennya yang mewah.
Erwin tidak dapat menerima sebuah tolakan, ia jatuh cinta dan sangat kesemsem dengan seorang gadis keturunan India yang bermukin di Ingriss. Namun, gadis ini tidak dapat melanjutkan apa yang sudah mereka jalani selama ini. Orang tuanya di Bombai sudah menentukan siapa pria yang harus ia nikahi saat ia masih kecil maupun waktu ia sudah besar. Sudah terjual. Sold Out.
Erwin tidak kuasa berteman dengan rejection. Baginya rejection adalah barang aneh. Dan rejection telah menaklukannya. Ia memilih keluar lewat jendela dan mengakhiri hidupnya ketimbang memilih rejection sebagai sahabat perjalanan dalam hidup.
Memang pelik untuk menerjemahkannya ke dalam logika, kok bisa seorang pemuda pewaris tahta kerajaan bisnis dikalahkan oleh sebuah rasa dan penolakan cinta dari Bombay.
Sebelum bagian kedua Anda baca, berikut sedikit cuplikan mengenai siapa Warren Buffet yang akan dijadikan contoh dalam bacaan.
"Menyandang predikat investor terbesar di dunia, Warren Buffent adalah seorang milyarder yang mempelopori konsep managing for shareholder value (mengelola untuk menghasilkan nilai bagi pemegang saham). Hingga hari ini, rekor kinerjanya belum tertandingi." - dari Seri Maestro Bisnis karangan Robert Heller
===========
Penolakan dan Reaksi
Penolakan datang dalam berbagai bentuk. Kamu tidak berhasil masuk ke dalam tim (bola, musik, dll.). Universitas yang ingin kamu masuki menolakmu. Wanita yang ingin kamu ajak, mengatakan "tidak". Kamu tidak memperoleh pekerjaan itu. Kamu dilewatkan saat promosi. Suami meninggalkanmu.
Apapun bentuknya, ditolak itu menyakitkan. Hal itu menampar ego-mu dan menantang kemampuanmu untuk menghadapinya. Penolakan membuatmu bertanya. Penolakan membuatmu marah. Dan dalam bentuknya yang paling ekstrim dan menyakitkan, penolakan menghasilkan pikiran-pikiran yang merusak diri dan perilaku - mulai dari amarah, minum miras dan yang paling parah, bunuh diri.
Trik untuk mengatasi masalah penolakan ini, lucunya, adalah dengan tidak berusaha menghindarinya dan memilih untuk bereaksi secara positif terhadapnya. Lagipula, semua pasti mengalami penolakan, sekecil apapun itu. Bukan maksud saya disini untuk mengurangi kesakitan atau kesedihan siapapun yang mengalaminya; intinya, kamu tidak sendirian. Orang lain ada yang mengalami kejadian yang sama - atau bahkan lebih buruk. Satu-satunya cara untuk menghindari resiko ditolak adalah dengan berhenti menikmati hidup, berhenti bermimpi dan berhenti menjadi berani! Itu jauh lebih buruk daripada dengan berani melamar posisi tertentu, atau menerima tantangan kepemimpinan, atau menginvestasikan perasaan ... dan kemudian ditolak.
Dalam sebuah wawancara di Wall Street Journal, Warren Buffet berbicara mengenai penolakan Harvard Business School pada saat ia berumur 19. "Kenyataannya, semua yang telah terjadi dalam hidupku ... yang kurasa merupakan hal yang sangat menyakitkan atau berat, pada akhirnya untuk kebaikanku," katanya. Dengan pengecualian untuk masalah kesehatan, lanjutnya, "kemunduran" dalam hidup mengajarkan "pengalaman yang menuntun kita. Kita belajar bahwa kekalahan sementara itu benr-benar tidak permanen. Pada akhirnya malah itu bisa menjadi kesempatan."
Dalam kasus Buffet, pengajuan pilihan kedua pada universitas Columbia, membawanya masuk dalam pembimbingan 2 professor hebat yang mengajarkannya dasar-dasar penting untuk berkarir di bidang investasi. Tapi yang paling penting, kekecewaan yang dialami
ayahnya (saat ia gagal masuk Harvard), berubah menjadi "cinta tanpa syarat" dan "percaya total padaku".
Penolakan merupakan tantangan untuk menemukan jalan baru, menemukan jalan yang lebih baik. Daripada menyumpahi pekerjaan yang tidak kita peroleh atau orang yang menolak kita untuk suatu pekerjaan, analisa kembali keahlian diri kita dan carilah tempat atau penyaluran yang lebih baik untuk keahlian-keahlian kita itu. Daripada melarikan diri dari kehidupan karena sebuah hubungan berakhir dan hati hancur berantakan, pelajari sesuatu mengenai dirimu dari kejadian tersebut dan ketahuilah bahwa ada sesorang di luar sana yang membutuhkan apa yang bisa kamu berikan. Kesulitan hanya sementara, dan baru menjadi permanen bila kamu membiarkannya.
Bukan penolakan yang menentukan hasil akhirnya. Reaksimu terhadapnya lah yang menentukan.
Rubel Shelly

0 komentar:
Posting Komentar